Gejala Demam Berdarah dan Penanganannya

Gejala Demam Berdarah
Penyakit demam berdarah selalu menjadi problematika tiap tahunnya, terutama pada musim penghujan yang lembab. Demam berdarah pada dasarnya merupakan penyakit yang mudah untuk dicegah sebab penyebabnya telah pasti yakni gigitan nyamuk Aedes Aegypti. Namun, penyakit ini sering berujung pada kematian pasien yang terinfeksi lebih dikarenakan faktor lalai dan lambat mengobati. Hal yang menjadi pemicu adalah kurangnya pemahaman mengenai gejala demam berdarah itu sendiri. Terutama pada fase awal infeksi. Umumnya, orang-orang baru menyadari penyakit ini pada saat memasuki fase kritis.

Memahami Gejala Demam Berdarah

Berdasarkan gejala yang dialami oleh penderita, penyakit demam berdarah kemudian dibagi menjadi tiga klasifikasi. Masing-masing pembagian ini memiliki karakteristik gejala yang berbeda. Klasifikasi tersebut dimulai dari Demam Berdarah Klasik, Demam Berdarah Dengue Hemoragik, dan Sindrome Syok Dengue.


Adapun gejala yang muncul saat fase awal atau demam berdarah klasik adalah demam tinggi, merasakan sakit kepala yang parah, nyeri pada bagian belakang mata, nyeri pada sendi serta tulang, kadang disertai dengan mual dan muntah, dan pada fase lanjut munculnya ruam atau bintik-bintik berwarna merah pada kulit. Penanganan awal fase ini bisa dilakukan dengan memberikan air mineral bagi penderita. Namun tetap harus diperiksakan lebih lanjut pada dokter.

Memasuki fase selanjutnya dimana penderita mengalami gangguan pola makan, demam tinggi, fenomena pendarahan hebat atau biasa juga disebut hemoragik, terjadinya kondisi pembesaran ukuran hati, gagalnya sistem sirkulasi darah, ditemukannya kerusakan pada pembuluh darah juga limfa, adanya memar pada kulit sebagai akibat pendarahan di bawah jaringan epidermis, fenomena trombosiopenia serta terjadinya peningkatan jumlah sel darah merah. Semua kondisi tersebut mengacu pada gejala demam berdarah dengue atau DBD. Perbedaan utama DBD dengan DB Klasik adalah dijumpainya kebocoran plasma darah pada jenis DBD. Hal ini menjadikan fase ini jauh lebih parah dibandingkan demam berdarah klasik. Penanggulangan yang bisa dilakukan dokter adalah dengan terapi elektrolit. Namun terapi ini harus dilakukan dalam waktu dan cara yang tepat sebab jika tidak, bisa saja nyawa pasien melayang.

Fase selanjutnya adalah Sindrom Syok Dengue, yang mana merupakan fase paling parah dari penyakit demam berdarah. Gejala demam berdarah jenis ini merupakan penggabungan gejala yang dijumpai pada demam berdarah klasik dan demam berdarah dengue. Karakteristiknya adalah bocornya cairan di luar pembuluh darah, terjadi pendarahan, dan pasien mengalami syok akibat dropnya tekanan darah. Akibat syok ini sangat fatal sebab bisa berujung pada kematian. Syok ini paling sering dialami oleh pasien anak-anak. Namun bukan berarti tingkat kesembuhan nyaris nol. Penderita syok ini, setelah 12 sampai 24 jam bisa saja kehilangan nyawa namun juga bisa ditanggulangi dengan cara mengembalikan cairan tubuh dengan taktis, cepat dan tepat.

Selalu waspadai gejala demam berdarah, penanganan lebih dini jauh lebih menguntungkan dibandingkan pengobatan pada fase demam yang terlanjur parah. Jika terjadi demam, segera lakukan langkah pengobatan atau segeralah konsultasi ke dokter. Sebagai tambahan, perbaiki pola kebersihan lingkungan Anda sebab perkembangan nyamuk A. Aegypti erat kaitannya dengan lingkungan yang kotor.